JURUSAN DAKWAH STAIN SAMARINDA KALIMANTAN TIMUR - PRODI : KOMUNIKASI & PENYIARAN ISLAM (KPI) + PRODI: MANAJEMEN DAKWAH (MD) + PRODI : BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM (BKI) - JL. KH. ABUL HASAN NO.3 SAMARINDA = http://dakwahstainsamarindakaltim.blogspot.com = ...DAKWAH: "Bikin Hidupmu Kreatif"...

Kamis, 01 Juli 2010

e-Dakwah Oleh: Sitti Syahar Inayah


e-Dakwah
(Suatu Tinjauan Praktis)
Oleh: Sitti Syahar Inayah[1]

Abstrak
Dunia internet yang mulai banyak diperbincangkan pada dekade tahun 90-an, adalah sebuah dimensi baru dalam kehidupan manusia. Kehadiran internet ternyata telah mengubah sebagian besar kebiasan orang dalam berkomunikasi dengan orang lain, mulai dari sekedar menyampaikan pesan, sampai aktivitas sehari-hari seperti membaca koran, majalah, berbelanja dan lain-lain. Dakwah sine qua non dalam kehidupan muslim turut pula berubah dengan adanya internet. Dakwah konfensional mulai dianggap tidak mampu mengatasi kebutuhan perkembangan zaman, utamanya batasan ruang dan waktu. Di sisi lain, internet sebagai media baru bisa menawarkan solusi. Pemanfaatan teknologi informasi untuk dakwah berupa e-dakwah (elektronik dakwah) bertujuan membawa manusia kepada jalan Allah. Karenanya dibutuhkan keseriusan untuk mengelola sebuah e-dakwah.


Kata Kunci : dakwah, internet, teknologi.

Dakwah merupakan satu bagian yang pasti ada dalam kehidupan umat beragama. Dalam ajaran agama Islam, dakwah merupakan suatu kewajiban yang dibebankan oleh agama kepada pemeluknya, baik yang sudah menganutnya maupun yang belum. Dengan demikinan, dakwah bukanlah semata-mata timbul dari pribadi atau golongan, walaupun setidak-tidaknya ada segolongan (tha’ifah) yang melakukannya. ‘Dakwah adalah setiap kegiatan yang bersifat menyeruh, mengajak, memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan garis akidah, syariat dan akhlak Islamiyah’.[2] Dakwah dimaknai sebagai ‘seruan atau ajakan kepada keinsafan, atau usaha mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap pribadi, maupun terhadap masyarakat’.[3] Perwujudan dakwah bukan sekedar usaha peningkatan pemahaman keagamaan dalam tingkah laku dan pandangan saja, tetapi juga menuju ke sasaran yang lebih luas. Apalagi pada masa sekarang ini, dakwah harus lebih berperan menuju kepada pelaksanaan ajaran Islam secara lebih menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan.
Sukses tidaknya suatu dakwah bukanlah diukur dari gelak tawa atau tepuk riuh pendengarnya, bukan pula dengan ratap tangis mereka. Sukses tersebut diukur melalui, antara lain, pada bekas (atsar) yang ditinggalkan dalam benak ataupun kesan yang terdapat dalam jiwa, yang kemudian tercermin dalam tingkah laku mereka. Untuk mencapai tujuan tersebut, tentu saja semua unsur dakwah harus mendapat perhatian. Salah satu unsur dakwah adalah metode penyampaian. Metode penyampaian bisa dilakukan melalui berbagai sarana, mulai dari yang konfensional berupa ceramah di mimbar, bermedia seperti radio atau televisi sampai pada pemanfaatan media baru berupa internet. Media komunikasi harus menjadi perhatian umat Islam sebagai media dakwah.
Dakwah dalam media dapat hadir dalam berbagai program yang intinya mengulas tentang agama dan berbagai aspeknya, baik di media cetak maupun elektronik. Talk show, sinetron, tulisan tentang agama, dan ceramah agama adalah beberapa contohnya. Wajah agama yang tampil dalam media ini dapat membentuk citra dan sekaligus memperluas jangkauan dakwah, tidak hanya mereka yang seagama, namun juga kepada pemeluk agama lain.
Sejak kehadiran internet, teknologi untuk dakwah seakan menjadi lebih lengkap. Banyak harapan dan juga kekuatiran yang muncul sejalan dengan semakin meluasnya teknologi ini. Internet, yang mulai banyak diperbincangkan mulai decade 90-an, adalah dimensi baru dalam kehidupan manusia. Kehadiran internet—merupakan keterhubungan, menjalinkan jaringan dengan jaringan, saling menghubungkan semua komputer yang tercakup dalam setiap jaringan[4] ---dalam kehidupan manusia ternyata telah mengubah sebagian besar kebiasaan berkomunikasi dengan orang lain, mulai dari sekedar menyampaikan pesan, sampai aktivitas sehari-hari seperti membaca koran, majalah, berbelanja dan lain-lain.
Pelanggan dan pemakai internet meningkat dengan cepat di berbagai belahan dunia, tidak terkecuali Indonesia. Data statistik terakhir yang di-updeted Pebruari 2006 oleh APJII dalam http://www.apjii.or.id/ diakses penulis 8 Mei 2007 tentang pelanggan dan pemakai internet menujukkan meningkatan di Indonesia. Sejak tahun 1998, terdapat 134.000 pelanggan dengan jumlah pemakaian 512.000 orang. Dalam lima tahun jumlah ini meningkat 16 kali lipat pada tahun 2003 yaitu 865.706 pelanggan dan pengguna sebanyak 8.080.534 orang. Tahun 2004 yang disajikan APJII meningkat menjadi 1.087.428 pelanggan dengan pengguna mencapai 11.226.143 jiwa. Perkiraan APJII tahun 2005 pelanggan 1.500.000 dan pemakai sebesar 16.000.000 orang.
Selain pemakai dan pelanggan, pertumbuhan jumlah domain baru juga menunjukkan peningkatan. Pertumbuhan jumlah domain baru yang terdaftar di ID-TLD (Indonesia--Top Level Domain) menunjukkan peningkatan di Indonesia. Tahun 1998 tercatat 1.479 domain baru, tahun berikutnya sebanyak 2.126 domain baru dengan total domain 3.605. Hingga tahun 2004 total domain tercatat 21.762. Perkembangan ini harus dicermati para pelaku dakwah mengingat perhatian pengguna media beralih pada teknologi tersebut.


Sifat-Sifat Internet
Di samping peningkatan pemakai dan domain baru, sifat-sifat internet juga harus diperhatikan. Dakwah melalui internet dapat dilakukan dengan memanfaatkan sifat-sifat tersebut.

1. Interaktif.
Kita sering mendengar tentang televisi interaktif, interaktif web sites, komersial interaktif. Apakah interaktif itu? Kadang-kadang kata interaktif digunakan sebagai sinonim dari dua arah. Beberapa media benar-benar dua arah misalnya percakapan antara dua orang. Percakapan dua orang tidak hanya saling bertukar respon tapi juga memodifikasi interaksi mereka yang sebelumnya. Game komputer juga sering disebut-sebut interaktif karena informasi dipertukarkan antara pemain dengan game secara kontinyu sesuai dengan respon pemain. Bentuk akhir dari interaktif ini disebut Turing Test—dinamai sesuai dengan pionir komputer Inggris Alan Turing--untuk intelegensia artifisial[5].
Kata interaktif digunakan secara luas pada situasi dimana isi sistim media dipilih oleh pengguna. Sebagai contoh novel on line yang memungkinkan pembacanya memilih pengembangan plot yang disebut novel interaktif. Dengan demikian, penggunaan secara luas kata tersebut bisa berarti buku dengan indeks dan televisi dengan remote kontrol juga interaktif—pengguna dapat memilih isi.
Di sini akan dibatasi defenisi sistim interaktif pada makna dimana feed back dari penerima yang digunakan oleh sumber—manusia atau komputer---secara berlanjut memodifikasi pesan sebagaimana pesan tersebut dibawa ke penerima. Dengan defenisi tersebut, memilih plot alternatif pada novel on line adalah interaktif, tetapi TV dengan remote kontol dan indeks buku tidak interaktif (feed back yang tidak real time ke sumber).
Internet disebut-sebut mempunyai sifat interaktif yang tinggi ini. Sifat ini berbeda dengan dakwah konvensional yang berjalan satu arah. Dengan memanfaatkan sifat interaktif yang tinggi, dakwah dimungkinkan mempunyai peluang mencapai sasaran yang lebih tinggi pula.

2. Anonimitas
Karakteristik khalayak internet anonim, pengirim pesan tidak dapat melihat khalayak satu per satu, khlayakpun tidak dapat melihat siapa pengirim pesan. Partisipasi pada beberapa diskusi on line dan interaksi pada dasarnya anonim, dan hal ini kadang-kadang menjadi bagian dari daya tariknya.
Sifat anonimitasnya bisa membuat audiens merasa nyaman untuk bertanya tanpa harus malu. Di sisi lain anonimitas juga bisa dimanfaatkan dalam hal negatif yaitu memberikan informasi tentang yang salah yang disertai dengan bumbu-bumbu untuk mendiskreditkan seseorang atau suatu lembaga.

3. Homogenitas
Homogenitasnya memungkinkan terbentuk suatu komunitas. Terbentuknya suatu komunitas membuka peluang untuk saling mempengaruhi atau paling tidak saling berbagi informasi. Semakin sering berinteraksi semakin terbuka peluang yang besar untuk saling mempengaruhi. Dengan demikian akan muncul cara berpikir yang sama, menyamakan sikap dan mengidentifikasikan diri dengan komunitasnya yang berlanjut pada terbentuknya prilaku yang sesuai dengan harapan komunitas tersebut.

e-Dakwah
Sebagaimana pemanfaatan internet dalam dunia perdagangan, internet, media ini juga bisa dimanfaatkan dalam hal dakwah. ‘Electronic commerce tidak lebih dari sebuah toko retail yang menjadi media konvensional kegiatan usaha, tempat dimana seseorang dapat membeli produk dan berbelanja dengan lengkap’.[6] Beranjak dari defenisi tersebut, batasan elektronik dakwah dianalogikan. e-Dakwah tidak jauh beda dengan e-commers. e-Commerce menjual barang menggunakan bantuan internet, sedangkan e-dakwah menjual ‘pesan kebenaran ilahi’ melalui internet. ‘e-Dakwah secara sederhana dapat didefenisikan sebagai pelaksanaan dakwah dengan bantuan teknologi informasi, terutama internet’.[7]
e-Dakwah merupakan salah satu pemanfaatan teknologi informasi sebagai respon aktif-reaktif terhadap perkembangan yang ada. Respon kreatif ini muncul dari kesadaran akan sisi positif teknologi informasi. Alasan mengapa e-dakwah menjadi perlu adalah bahwa penyebaran dakwah konvensional dibatasi ruang dan waktu, sedang dakwah digital atau e-dakwah dapat dilakukan melintas batas ruang dan waktu. Cakupan geografis e-dakwah tidak terbatas. Semua pengguna internet dapat tersentuh oleh dakwah jenis ini.
Fathul Wahid[8] mengajukan 3 alasan mengapa e-dakwah menjadi penting:
1. Muslim telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Di dunia, Islam sekarang merupakan agama dengan pemeluk terbanyak kedua setelah Kristen. Hal sama juga terjadi di Amerika, Perancis, dan Inggris. Pertumbuhan pemeluk Islam di Negara Eropa lainnya dan Australia juga sangat pesat. Internet merupakan sarana yang mudah dan murah untuk selalu keep in touch dengan komunitas muslim yang tersebar di segala penjuru dunia.
2. Citra Islam yang buruk akibat pemberitaan satu sisi oleh banyak media barat perlu diperbaiki. Internet menawarkan kemudahan untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran yang jernih dan benar serta pesan-pesan ketuhanan ke seluruh dunia. Karena itu dalam konteks ini, internet banyak digunakan untuk menyebarkan propaganda anti Islam yang salah, maka pengguna internet merupakan salah satu cara efektif melawannya. Dalam kaitan ini, kita sekaligus melakukan dakwah ke komunitas non-muslim.
3. Pemanfaatan internet untuk dakwah, dengan sendirinya, juga menunjukkan bahwa muslim bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan peradaban yang ada selama itu tidak bertentangan dengan akidah. Di Negara-negara maju, media ini telah memudahkan muslim dalam mengelola dakwah dan berkomunikasi dengan anggota jamaah lainnya. Penguasaan teknologi ini juga dapat menghilangkan ketergantungan kita kepada pihak barat dan menjadikan muslim minimal bisa berdiri sejajar dengan orang-orang barat dan menjadi orang yang benar-benar merdeka.
Dalam hal misi pun e-dakwah mengambil titik tolak dari prinsip-prinsip perdagangan. Pentingnya e-dakwah dilakukan membawa misi untuk memperluas jangkauan dakwah, menampilkan wajah Islam yang sesungguhnya dan membangun citra Islam. Sebagaimana halnya prinsip dalam perdagangan bahwa konsumen berada di mana-mana, hanya saja kita tidak bisa berada di semua tempat tersebut. Karenanya dikembangkan konsep belanja melalui internet. Begitu pula dengan dakwah, orang yang menginginkan siraman informasi dan pengetahuan tentang Islam, bisa berada di mana-mana, namun program dakwah konvensional tidak bisa menjangkau semuanya. Dengan bantuan internet, cakupan dakwah dapat diperluas hampir tak terhingga, melintasi batas ruang dan waktu.
Sebelumnya telah disebutkan bahwa sasaran dakwah adalah orang yang telah berislam maupun yang belum. Pada kelompok pertama, dakwah berfungsi sebagai pengingat dan menyegar keimanan, karena tidak ada yang menjamin keimanan selalu stabil dan meningkat. Pada kelompok kedua, dakwah berfungsi sebagai seruan ke jalan yang benar, jalan agama Islam.
Sehubungan dengan kelompok kedua sebagai tujuan dakwah, menampilkan wajah Islam yang sesungguhnya menjadi sangat penting. Karena Islam seringkali disalahpahami oleh banyak orang. e-Dakwah dengan jangkauan yang hampir tak terbatas, mempermudah maksud ini. Apalagi, sampai saat ini, asumsi penulis bahwa sebagian pengguna internet adalah mereka yang belum mengikuti jalan Islam dalam arti beragama Islam. Banyak orang, termasuk pengguna internet yang salah memahami Islam dan mengidentikkan Islam dengan kekerasan dan terorisme. Hal ini menunjukkan bahwa medan dakwah dalam internet sangat luas, terutama dalam rangka meluruskan informasi tentang Islam dengan menampilkan wajah Islam yang sebenarnya. Islam itu damai dan indah.
Pada tataran yang lain, internet juga akan sangat membantu dalam membangun citra Islam yang tidak anti teknologi dan tertinggal dalam pemanfaatan. Pencitraan komunitas muslim tertinggal dan bodoh bisa ditemukan pada banyak tempat. Fakta objektif juga mendukung pencitraan itu. Sebagian besar negara dengan penduduk muslim besar adalah negara yang tertinggal dalam bidang pendidikan dan pengembangan teknologi, jika dibandingkan dengan negara-negara maju.
Kita seringkali terlalu bangga hidup dalam bayang-bayang kejayaan Islam. Kita terlalu banyak meminjam dari sejarah, dan baru sedikit sekali yang memberikan sesuatu yang layak dicatat dalam sejarah Islam. Momen kehadiran internet dengan segala hal yang dimungkinkannya dijadikan sebagai awal untuk membangun kembali semangat dan energi yang tersebar menjadi sebuah sinergi untuk melakukan perubahan-perubahan yang bermanfaat untuk kesejahteraan umat manusia.

Wujud e-Dakwah
‘Internet adalah energi’. Demikian ungkapan yang dilontarkan Syaikh Hisyam Muhammad Kabbani, seorang guru sufi yang menghadirkan Haqqani Foundation ke cyberspace dengan situs Tariqas. Sarjana di bidang kimia, kedokteran dan hukum Islam ini menganggap bahwa spritualitas selalu bersifat teknologi tinggi. Spritualitas dilihatnya sebagai sejenis transmisi energi antara umat manusia, jika seseorang dapat menerimanya, karena manusia adalah penerima dan pentransmisi pada waktu yang sama. ‘Inilah yang kami lihat di internet dan dalam peralatan canggih yang ada saat ini—bahwa segala sesuatu menerima dan mengirim. Jadi kami ingin menunjukkan bahwa sufisme adalah suatu cara berkomunikasi melalui energi yang dapat berpindah dari satu orang ke orang lain melalui spiritualtas’.[9]
Syeik Kabbani hanyalah salah satu dari jutaan cendikiawan muslim yang menyadari pentingnya internet sebagai media dakwah. Lalu bagaimana tampilan dakwah di internet agar bisa mencapai tujuan dakwah.
e-Dakwah dapat muncul dalam bentuk website dan fasilitas berbasis-web lainnya seperti mailing list (lebih dikenal dengan milis--penulis), forum diskusi, dan chatting. Seperti halnya website untuk e-commerce, website e-dakwah juga harus memenuhi beberapa kriteria website yang berkualitas. Kualitas website bisa dilihat dari berbagai aspek seperti tampilan, kualitas dan kemutakhiran informasi, kinerja dan fitur yang tersedia.
Straubhaar dan Larose[10] mengemukakan bahwa ada strategi yang unik dalam web. Framing merupakan garis yang mengelilingi halaman dengan sebuah batas yang termasuk logo dari awal halaman web. Program interaktif juga merupakan hal yang unik dalam web. Banyak mengguna internet melupakan keadaan sekitar karena asyik dengan game on line, partisipasi dalam MUDs (multi-user Dungeons), chatting, berpatisipasi dalam newsgrup, dan mengirim e-mail. Strategi lainnya adalah personalisasi isi dengan pengguna individual. Personalisasi yang dimaksudkan adalah bagaimana mengetahui pengunjung, merespon dan mengantisipasi kebutuhannya, berada dalam hubungan personal yang stabil
Tampilan merupakan daya tarik pertama yang menimbulkan kesan awal yang menarik pengunjung untuk menjelajahi lebih lajut. Tampilan wesite e-dakwah ibarat etalase toko. Jika kesan sesaat yang ditimbulkannya kurang mengena, maka kecil kemungkinan konsumen akan masuk ke toko tersebut. Pilihan warna yang menarik dan estetik, pengaturan letak informasi (layout), navigasi yang mengakrabkan dan bisa dijalankan secara intuitif. Demikian juga dengan web dakwah harus diatur sedemikian rupa sehingga menarik untuk didownload.
Kualitas dan kemutakhiran informasi merupakan hal penting yang harus diperhatikan. Informasi yang ditampilkan adalah ‘ruh’ website e-dakwah. Semakin lengkap, berkualitas, dan relevan informasi yang ditawarkan, website e-dakwah, semakin berkualitas websitenya. Tidak kalah penting juga pemutakhiran informasi yang disajikan. Karenanya updating informasi menjadi sangat penting terutama untuk menarik pengunjung secara teratur.
Kinerja (performance) website e-dakwah bisa dilihat dari ketersediaan atau up-time yang mendekati 100%. Hal ini terkait dengan infrastruktur di mana website disimpan. e-Dakwah yang baik seharusnya juga menyediakan fitur lain, seperti fitur untuk membentuk komunitas virtual seperti forum diskusi, mailing list, web e-mail gratis, chat, dan newsgrup. Fitur lain yang relevan adalah audio, video, dan hiburan, seperti fitur untuk mendengarkan nasyid atau musik islami, resital Al-quran, rekaman ceramah, baik dalam bentuk audio atau video.
Secara garis besar website tentang Islam dapat dikategorikan menjadi: portal informasi tentang islam, termasuk media; dan yang kedua yaitu website organisasi Islam. Beberapa contoh portal informasi seperti http://www.al-islam.com/, portal ini semacam layanan sosial yang bertempat di Kairo. Informasi yang ditawarkan sebagian besar berkaitan dengan Al-Quran dan Hadits dalam enam bahasa yaitu Arab, Inggris, Prancis, Jerman, Malaysia, dan Indonesia. http://www.islaam.com/, hadir dalam bahasa Inggris dan Prancis. Yang menarik, website ini mempunyai sebuah link dan halaman yang diperuntukkan khusus pengunjung non-muslim yang masih awam dengan Islam. http://www.myquran.com/, portal informasi ini merupakan salah satu website e-dakwah yang dikelola oleh muslim Indonesia dan mendedikasikan situsnya sebagai fasilitator dakwah virtual. Sebagai sarana membangun komunitas, pengunjung bisa mendapatkan e-mail gratis, bergabung dalam milis, menggunakan forus diskusi, dan message board.
Website organisasi Islam diantaranya http://www.krapyak.org/, yang menyajikan informasi tentang Pesantren Krapyak. Informasi yang ditawarkan diantaranya informasi akademik dan lembaga-lembaga sosial yang terkait dengan pesantren. http://www.usc.edu/dept/MAS/, sebuah situs yang dikelola oleh Parsatuan Mahasiswa Muslim Universitas California Utara (Moslem Student Association University of Southerm Califormia. Situs ini kaya dengan informasi tentang Islam, aktivitas sosial dan agama yang dilakukan organisasi pengelola.

Ukuran Keberhasilan
Tugas muslim adalah menyampaikan pesan Islam, setelah itu adalah urusan Allah. Namun demikian keberhasilan dakwah dapat dilihat dari jejak (at’sar) yang ditinggalkan. Indikasi yang jadikan ukuran keberhasilan e-dakwah adalah jumlah penguna internet. Semakin banyak pengunjung, semakin berhasil sebuah usaha e-dakwah, karena inilah ukuran tingkat penyebaran nilai-nilai Islam. Ukuran ini juga digunakan untuk website komersial.
Untuk menarik banyak pengguna seperti yang dikatakan Andi Muis adalah ‘harus dipakai kamuflase sedikit. Jadi ada informasi atau berita yang sedikit pop, tapi tidak melanggar Al-quran dan hadis. Itulah keahlian, seni bagaimana caranya meracik, bagaimana pembaca non-muslim bisa menyukai’.[11] Tekanan ini menurut penulis dapat dilihat pada Uses and Gratifications Theory.
Perspektif ini didominasi pemikiran tentang perilaku konsumsi media. Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa ‘konsumen itu aktif dan tujuan utama. Anggota audiens merespon secara luas untuk memilih media dalam melihat dan mengetahui kebutuhannya dan bagaimana menemukan kebutuhan tersebut. Media dipertimbangkan hanya sebagai salah satu cara menemukan kebutuhan personal, dan individu bisa menemukan kebutuhannya melalui media atau dengan cara lain’.[12]
Dengan menggunakan teori ini, pengelola e-dakwah mencoba mengindetifikasi kebutuhan pengguna internet yaitu kebutuhan akan informasi tentang islam secara keseluruhan. Pemilihan media tetap merupakan keputusan pengguna. Namun demikian, agar situs yang ditawarkan menjadi pilihan konsumen dibutuhkan strategi seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Dengan demikian, pengguna akan merasa menemukan kebutuhannya dalam situs yang ditampilkan dan mencoba memuaskan kebutuhann tersebut dengan cara selalu mengunjunginya. Sejalan dengan hal tersebut, dapatlah dilihat jejak (atsar) yang ditinggalkan dalam benak pengguna ataupun kesan yang terdapat dalam jiwa, yang diharapkan tercermin dalam tingkah laku mereka.

Hambatan dan Tantangan
Untuk menuju pada keberhasilan, di samping memanfaatkan peluang yang tak kalah pentingnya untuk diperhatikan adalah hambatan dan tantangan. Hambatan merupakan faktor internal sedangkan tantangan adalah faktor eksternal.
Dari segi hambatan, paling tidak ada 3 hambatan utama yaitu tingkat kecakapan dalam teknologi informasi yang masih rendah, tingkat akses terhadap internet yang juga masih rendah dan kemungkinan benturan yang kontra-produktif antara kelompok-kelompok Islam sendiri (Islam mayoritas versus minoritas).
Meski belum ada data resmi (menurut pengalaman penulis) tentang tingkat penguasaan teknologi di kalangan umat Indonesia, namun menurut asumsi penulis, tingkat penguasaan teknologi di kalangan umat Islam Indonesia masih rendah. Demikian juga dengan tingkat akses internet masih rendah. Adapun kemungkinan benturan yang kontra-produktif antara kelompok-kelompok Islam sendiri (Islam mayoritas versus minoritas) adalah benturan informasi tentang Islam. Contoh sangat baik adalah Tragedi 11 September 2001. Pasca teror bom 911 diskusi tentang masalah tersebut ramai menghiasi media. Tidak jarang muncul hujatan dari kelompok yang tidak setuju. Dalam tingkatan tertentu, tentu saja hal ini menjadi kontra-produktif dalam sebuah proses dakwah. Apalagi jika yang menjadi sasaran dakwah adalah umat di luar Islam.
Dari sisi tantangan yaitu Informasi anti-Islam dan Islam gadungan, penyesatan massal, dan maraknya pornografi. Informasi anti-Islam dapat ditemukan dalam berbagai situs yang memang benar-benar anti Islam. Munculnya Islam gadungan sangat mungkin ditemukan dalam internet. Situs atas nama Islam namun memaparkan informasi yang justru bertujuan merusak Islam, dengan cara antara lain menambahkan hadis palsu.


Penutup

Meskipun masih ada kontroversi tentang penggunaan internet dewasa ini namun internet tidak mungkin lagi diabaikan. Untuk berkenalan dengan internet tidak mutlak harus memiliki komputer, banyak sarana yang tersedia sekarang ini untuk seseorang melakukan surfing di Internet.
Kondisi ini yang harus diperhatikan oleh seorang muslim dalam berdakwah, bahwa media baru ini bisa dimanfaatkan sebagai media dakwah. Dengan melihat sifat-sifat dan peluang internet dapat dikatakan Internet merupakan alat dakwah yang berdaya guna dimana Islam merupakan agama yang hidup dalam perubahan.
Pemanfaatan internet untuk dakwah dapat berwujud e-dakwah (elektronik dakwah). e-Dakwah menjadi penting karena dapat dilakukan melintasi batas ruang dan waktu. Berbeda dengan dakwah konfensional yang dibatasi oleh ruang dan waktu.
Wujud e-dakwah dalam bentuk website dan fasilitas berbasis web lainnya seperti mailing list, forum diskusi, chatting dan lainnya. Dengan kelengkapan fitur yang disediakan, pengguna internet akan tertarik mengunjungi sebuah e-dakwah. Tentu saja yang tidak kalah pentingnya adalah tampilan, kemutakhiran dan kualitas informasi dan kinerja.



Buku Acuan

Colombo, George, 2001, Capturing Customers .Com (Menangkap Pelanggan .Com: Strategi Radikal Pemasaran dan Penjualan di Dunia Maya, Elex Media Komputindo, Jakarta.

Green, Lelia, 2001, Technoculture, from Alphabet to Cyebersex, Allen & Unwin, Australia.

Littlejohn, W Stephen, 2001, Theories of Human Communication (7th Ed.), Wadsworth, USA.

Muis, A, 2001, Komunikasi Islami, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Pacey, Arnold, 2000, The Cultural of Technology, The MIT Press, Cambridge.

Ridwan, Kafrawi (editor), 2001, Ensiklopedi Islam, Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

Shihab, M. Quraish, 1994, Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Mizan, Bandung.

Straubhaar J and Larose R, 2004, Media Now, Understanding Media, Culture, dan Technology (4th Ed.) Wadsworth, USA.

Wahana Komputer, 2002, Apa dan Bagaimana E-Commerce, Andi, Yogyakarta.

Wahid, Fathul, 2004, e-Dakwah: Dakwah Melalui Internet, Gava Media, Yogyakarta.

Zaleski, Jeff, 1999, Spiritualitas Cyberspace: Bagaimana Teknologi Komputer Mempengaruhi Kehidupan Keberagamaan Manusia, Mizan Pustaka, Bandung.

http://www.apjii.or.id/
http://www.al-islam.com/
http://www.islaam.com/
http://www.myquran.com/
http://www.krapyak.org/
http://www.usc.edu/dept/MAS/
[1] Penulis adalah calon dosen STAIN Samarinda.
[2] Kafrawi Ridwan (ed.), Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2001), h. 280.

[3] M. Quraish Shihab, 1994, Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, Bandung, 1994), h. 194.
[4] Lelia Green, Technoculture: from Alphabet to Cybersex, (Australia: Allen & Unwin, 2001), h. 193.
[5] Lihat Straubhaar J and Larose R, Media Now, Understanding Media, Culture, dan Technology (4th Ed.) (USA: Wadsworth, 2004), h. 23
[6] Straubhaar J and Larose R, Op. Cit., h. 253.
[7] Fathul Wahid, e-Dakwah: Dakwah Melalui Internet, (Yogyakarta: Gava Media, 2004), h. 27.
[8] Ibid. h.29-30.
[9] Jeff Zaleski (ed.), Spiritualitas Cyberspace: Bagaimana Teknologi Komputer Mempengaruhi Kehidupan Keberagamaan Manusia, (Bandung: Mizan, 1999) h. 87.
[10] Lihat Straubhaar J and Larose R, Op.Cit., h. 255.
[11] Andi Muis, Komunikasi Islami, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), h. 332.
[12] Stephen W. Littlejohn, 2001, Theories of Human Communication (7th Ed.), (USA: Wadsworth, 2001) h. 321-322.
Read More..

Senin, 14 Juni 2010

WORKSHOP

WORKSHOP
sosialisasi pengembangan sistem informasi berbasis web
STAIN Samarinda 15-17 Juni 2010

kehadiran Tek.kom memungkinkan pengembangan sistem informasi manajemen berbasis komputer, manfaatnya didapatkan kemudahan menyimpan, mengorganisasi dan melakukan pengembalian (retrieval) terhadap berbagai data.
kesulitan yang sering terjadi pada bagian internal PT adalah banyaknya pengelolaan data yang memerlukan pengelolaan dalam waktu yang relative singkat. sebagai contoh antara pengelolaan data mahasiswa yang mengambil mata kuliah dan kelas yang dengan pengajar dosen. dst Read More..

Selasa, 01 Juni 2010

Zainal Ilmi


URGENSI MEMAHAMI BAHASA TUBUH SEBAGAI KOMUNIKASI NON VERBAL

Zainal Ilmi [1])

Abstract: Understanding gesture as non verbal communication is very important. In fact, research has shown that 80% communication among human being was done non verbally.the area of non verbal communication which has relevantion with verbal communication is body laguage or kinetic, sound and articulation, and clothes. Anybody need to know body language in communication because it can express many things about us and other people

PENDAHULUAN

Dalam Faktanya Penelitian telah menunjukkan bahwa 80% komunikasi antara manusia dilakukan secara non verbal. Banyak interaksi dan komunikasi yang terjadi dalam masyarakat yang berwujud nonverbal. Komunikasi nonverbal ialah menyampaikan arti (pesan) yang meliputi ketidakhadiran simbol-simbol suara atau tulisan. Salah satu komunikasi non verbal ialah gerakan tubuh atau perilaku kinetic atau disebut pula dengan bahasa tubuh. kelompok ini meliputi isyarat dan gerakan serta mimic. Bahasa tubuh adalah salah satu aspek komunikasi nonverbal disamping aspek-aspek komunikasi nonverbal lainnya yang berkenaan dengan benda, seni, ruang dan waktu. Komunikasi nonverbal sama pentingnya dengan komunikasi verbal meskipun terkadang diabaikan. Kita sering tidak sadar bahwa rasa suka atau rasa benci kita kepada seseorang sering disebabkan perilaku nonverbal orang tersebut. Cara kita tersenyum, menjabat tangan atau menyentuh hidung, cara kita melipat tangan atau menyilangkan kaki, mengungkapkan banyak hal tentang kita serta orang lain. Di sebuah wawancara kerja, postur tubuh kita mengatakan lebih banyak hal tentang kita dibandingkan surat lamaran atau resume itu sendiri. Cara kita duduk, tersenyum, dan menggunakan tangan mengatakan banyak hal tentang sikap kita. Apakah kita bersikap terbuka atau menyembunyikan sesuatu.

Dengan mengetahui apa arti bahasa tubuh, kita dapat melihat perasaan seseorang yang sebenarnya, walau pun mereka tidak ingin mengatakannya kepada kita. ‘Bahasa tubuh’ kedengarannya seperti sebuah kontradiksi. Kita biasanya berbicara melalui mulut. Namun penelitian makin menemukan bahwa bahasa tubuh itu benar-benar sebuah bahasa. Mungkin dapat kita bayangkan kata-kata dan kalimat-kalimat yang terdiri dari gerak isyarat tubuh disengaja dan tanda-tanda dari alam bawah sadar yang tidak disadari. Beberapa diantaranya merupakan gerakan-gerakan gugup yang cepat, merupakan tanda-tanda kecil yang hanya dapat ditangkap melalui pengawasan yang cermat. Sebuah gerakan tubuh seperti menjabat tangan seseorang adalah sebuah kata. Sederetan gerakan tubuh yang berkesinambungan yang sering disebut kelompok, adalah kalimat. Contoh seorang pria yang sedang berhadap-hadapan dengan wanita, pandangannya lurus kepada wanita. Tangannya bergerak-gerak mendekati tangan wanita. Tidak ada keraguan dan rahasia dalam kalimat yang ia ucapkan : “Saya suka kamu, dan saya ingin dekat dengan kamu”.

Bahasa tubuh dapat memberi tekanan atau berlawanan dengan apa yang sedang kita ucapkan. Jika kita harus bersikap sopan terhadap seseorang yang tidak kita sukai mungkin kita mengucapkan kata-kata yang benar, namun tubuh kita memberontak. Mungkin kita menjabat tangan mereka sebentar mungkin, atau mencoba menghindar dari tatapan mata. Disini bahasa tubuh berlawanan dengan bahasa ucapan. Kita mengirimkan 2 macam tanda yang berbeda. Bahasa ucapan mengatakan “saya suka kamu”; bahasa tubuh mengatakan “saya tidak suka kamu”. Jika si penerima mengerti bahasa tubuh, ia tidak akan terkelabui.

Kecuali, jika kita seorang pemakai bahasa tubuh yang ulung dan mengetahui bagaimana caranya supaya kita terlihat benar berperasaan positif. Hanya seorang yang ahli sekali dalam bahasa tubuh yang dapat melihat tanda-tanda yang sangat kecil yang mengungkapkan perasaan kita yang sesunggguhnya.

Dalam kehidupan anak misalnya, anak-anak belajar beberapa hal tentang bahasa tubuh pada saat mereka tumbuh dan berkembang. Pada umur sepuluh, mereka tahu bahwa jika mereka berbohong dan tidak ingin mengaku, mereka harus mencoba untuk tidak menunduk dan melihat ke bawah atau tidak menutup bibir dengan tangan mereka. Kita semua memiliki beberapa pemahaman tentang bahasa tubuh, kecuali jika kita buta emosi. Kita tidak perlu mempunyai ijasah dalam ilmu psikologi untuk mengetahui bahwa seorang wanita yang memegangi kepalanya dengan tangannya sedang tidak bergembira.

Makin akrab situasinya, makin banyak kita membuka diri yang sesungguhnya, makin banyak yang akan diungkapkan melalui bahasa tubuh kita, meskipun sering kali diluar kehendak kita. Kadang, tubuh kita menceritakan kebenaran yang tidak kita ketahui, dan tidak siap kita terima.

Argyle menyatakan bahwa ketika orang bertemu, berbicara atau melakukan apa saja secara bersama-sama, maka tingkah laku ini harus dilihat sebagai “interaksi”. Ini menekankan betapa banyaknya faktor-faktor yang berbeda yang berperan di dalam hubungan antara orang-orang. Sebuah cara yang bagus untuk meneliti sebuah interaksi adalah menganalisis tiga unsur yang ada didalamnya yaitu konteks, teks dan subteks.1

Konteks adalah situasi umum dimana pertemuan atau pertukaran antar manusia tersebut terjadi. Pergi makan siang adalah suatu peristiwa yang berbeda tergantung dengan siapa kita pergi makan siang. Makan siang singkat dengan teman sekerja di kantor atau makan siang dengan kekasih atau makan siang dengan calon kekasih, akan memiliki dinamika yang berbeda.

Teks adalah kata-kata yang benar-benar diucapkan pada pertemuan. Kata-kata bukanlah segala-galanya. Jika kita hanya diberi catatan tentang apa yang diucapkan pada setiap interaksi, itu tidak akan memberikan kepada kita pemahaman yang penuh tentang apa yang terjadi.

Subteks terdiri atas intonasi dan bahasa tubuh yang digunakan. Yang seharusnya menyampaikan informasi yang serupa tentang kehangatan dan keintiman dari pertemuan tersebut. Orang tidak hanya tergantung pada kata-kata untuk mendapatkan sebuah gambaran tentang interaksi. Nada suara dan isyarat tanpa kata mempunyai lebih dari setengah bukti yang mendasari penilaian mereka tentang situasi. Jika isyarat tanpa kata berlawanan dengan apa yang diucapkan, orang akan cemas dan berpikir bahwa mereka mungkin sedang dikelabui.

Konteks dan teks dari suatu interaksi biasanya mudah dijelaskan. Subteks sering tidak jelas dan terkait dengan perasaan yang berbelit-belit, gerakannya sendiri sangat sederhana, namun perasaan yang terlibat didalamnya sangat rumit. Dan tak seorangpun mengucapkan sepatah kata. Karena berbelit-belit inilah maka pemahaman bahasa tubuh menjadi sangat menarik.

Bahkan bila kita secara alami adalah komunikator yang baik dan pendengar yang baik, maka keterampilan kita tidak akan pernah mencapai potensi sepenuhnya kecuali kita memahami bahasa tubuh. Hasil riset secara konsisten menunjukkan bahwa dalam pesan apa pun, separuh arti disampaikan lewat kata yang diucapkan; separuh yang lain dialami dalam bahasa tubuh pembicara. Berdasarkan ulasan di atas dapat kita pahami betapa pentingnya memahami bahasa tubuh sebagai salah satu komunikasi non verbal.


* Dosen Tetap STAIN Samarinda

1 Michael Argyle, The Psychology of Interpersonal Behavior, ( London: Penguin, 1994), h. 205

Read More..

M. Tahir

MENYOAL FATWA MUI TENTANG

KEHARAMAN ROKOK

M. Tahir

Abstract: Once again, MUI gave religious advices about the illicit of cigarettes. Eventhough, the illicit of cigarettes is only implemented partially, because, it was implemented for toddlers, pregnant women, and smoking in public services only, the polemic about the problem is still growing up. As we know, the basic law of smoking is makruh it was allusioned with eating garlic which gave bad smell for those who ate the garlic, the moslems scholar has many opinions. Some of themsaid that the law of smoking is mubah, makruh, and haram

Kata kunci: fatwa, MUI, haram, rokok.

PENDAHULUAN

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekali lagi mengeluarkan fatwa yang cukup kontroversial. Alih-alih untuk mencegah bahaya rokok bagi umat, MUI mengeluarkan fatwa yang menyebut bahwa merokok termasuk perbuatan haram. Menariknya lagi fatwa ini tak berlaku mutlak. Pengharaman hanya diberlakukan bagi anak-anak, wanita hamil dan merokok di tempat umum. Alasan keluarnya fatwa ini adalah masalah kesehatan.

Meski demikian, tak urung fatwa tersebutpun menjadi polemik. Bukan saja dari pengamat fiqih, pelaku industri namun juga dari dalam MUI sendiri. Beberapa MUI di daerah menyuarakan perlunya meninjau ulang fatwa tersebut, MUI Nusa Tenggara Barat (NTB) misalnya, memintanya ditinjau atas dasar ulama mestinya melihat hak sosial ekonomi masyarakat. Di Lombok, tembakau memang komoditi vital bagi warga. Ulama Cirebon pun berseru serupa.

Sementara itu, petani tembakau pun menjadi resah. Ribuan petani di Temanggung melakukan aski unjuk rasa di alun-alun Temanggung. Mereka menolak fatwa haram rokok yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) beberapa waktu lalu. Apabila tuntutan ini tidak dihiraukan, para demonstran mengancam akan memboikot pemilu dan tidak akan membayar pajak.[1]

Sekjen Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jatim Abdus Setiawan mengaku sekitar 300.000 petani yang menjadi anggotanya resah. Ia yakin fatwa tersebut bisa berdampak pada pasar rokok yang lebih jauh lagi mematikan penghidupan anggotanya. Karenanya, ia berharap pemerintah bisa mengambil alih masalah ini dalam bentuk undang-undang yang lebih akomodatif bagi kepentingan petani.

Bagaimanakah hukum Islam memandang rokok, dan bagaimana juga merokok menurut kesehatan, dan mengapa fatwa tentang keharaman rokok tersebut berlaku secara parsial, tidak mutlak, apa karena para pengurus MUI sebagian besar adalah para ulama yang merokok? Tulisan singkat ini bermaksud melakukan penelusuran fatwa haram MUI tentang rokok dan mengkajinya dalam perspektif hukum Islam dan kesehatan.


[1]Kedaulatan Rakyat, 17 Februari 2009

Read More..

Nur Kholik Afandi


STRATEGI PENGEMBANGAN DAKWAH MELALUI PENDEKATAN PARTISIPATORY ACTION RESEARCH

Nur Kholik Afandi*

Abstract: In social change, Da’wah is a social engineering which was oriented on the effort to build the civilization, educated people, and religious. The right strategy was needed to build the change suitable with the condition and situation of people. So, the change could make people better than before. Because of that, Da’wah should have humanistic approach. People should be made as the subject and also object in the implementation. One of many strategies used in the da’wah development strategy was participatory action research. The implication and implementation of this approach were marked with people participation to find and solve problems themselves. So, Da’i just make a role as the facilitator in da’wah development

Kata Kunci: Stretagi Pengembangan dakwah, action research

PENDAHULUAN

Dakwah sebagai sebuah misi perjuangan dan pergerakan umat Islam, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam dalam rangka melaksanakan pembinaan dan pengembangan umat. Pembinaan berarti suatu kegiatan yang bertujuan untuk mempertahankan hal-hal yang telah ada sebelumnya, sedangkan pengembangan berarti suatu kegiatan yang mengarah pada pembaharuan dan pengadaan sesuatu yang belum ada.

Oleh karena itu hakekat dakwah Islam bukan hanya untuk menambah pengikut, tetapi upaya untuk menyadarkan manusia akan kebenaran, akan kemanusiaanya dan tanggungjawabnya, untuk menyelamatkan manusia dari kekufuran, kebodohan dan kemiskinan untuk membangun kedamaian ( harmonis), kesejahteraan , kemajuan dan kemandirian. [1]

Berdasarkan hakekat dakwah Islamiyah tersebut, maka keberadaan agama sangat diperlukan sekali dalam mengadakan perubahan atau transformasi sosial. Keberadaan agama juga membantu terjadinya proses penyesuaian dan penyeleksian norma-norma sosial yang ada dalam masayarakat, sehingga norma-norma yang ada senantiasa mengikti terhadap perkembangan dan perubahan sosial. Namun di lain fihak penafsiran yang salah terhadap nilai-nilai agama juga menyebabkan terjadinya “staus quo” terhadap perubahan yang terjadi dalam masyarakat, sehingga agama tidak memberikan perubahan pada masyarakat.

Peran agama dalam mendorong terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat merupakan salah satu prasarat pembangunan, hal ini disebabkan karena tanpa perubahan sosial maka pembangunan tidak akan terlaksana. Inti dari pembangunan masyarakat adalah bagaimana masyarakat mampu mengembangakan diri sesuai dengan potensi yang dimiliki, sehingga menumbuhkan keberdayaan dalam memenuhi kebetuhannya. Sehingga pembangunan masyarakat, yang berorientasi pada upaya pengembangan masyarakat mampu menciptakan masyarakat yang mandiri, masyarakat yang berdaya, masyarakat yang otonom.


* Dosen STAIN Samarinda

[1] Andi Dermawan, Metodologi Ilmu Dakwah, ( Yogyakarta, : LESFI, 2002 ), hal.39

Read More..



A. Visi

“Menjadikan Radio PESONA 107,70 FM STAIN terdepan dalam penyampaian informasi keagamaan, pendidikan, hukum, dan sosial kemasyarakatan”.

B. Misi

1. Menyelenggarakan penyiaran keagamaan (keislaman), kependidikan, hukum serta sosial kemasyarakatan dengan mengedepankan pendekatan akademik;

2. Menyelenggarakan penyiaran mengenai program-program kelembagaan dalam rangka sosialisasi dan penguatan eksistensi STAIN di Kota Samarinda dan sekitarnya;

3. Melaksanakan penyiaran radio berdasarkan program-program yang tidak bertentangan dengan kaedah-kaedah umum atau ketentuan yang berlaku.

Read More..

SILATURAHMI DAN MUDIK : UPAYA MENINGKATKAN EFEKTIFITAS KOMUNIKASI


SILATURAHMI DAN MUDIK : UPAYA MENINGKATKAN EFEKTIFITAS KOMUNIKASI

Abstract: Mudik process often done to return the humanism spirit. Because, the motivation of this tradition tough by our ancestors was to return our humanism spirit degradated by modernity atmophere which has thrown out humanism, togetherness, and familiarity.

Sociologically, Mudik remind human to place where they was born. This is very important to remind human not to forget their big family in this place. Because, the core of family in urban life was only consist of father, mother, and their kids.

In this tradition, there is a learning that everybody want to come back to where they was. The most imprtant thing of the tradition (especially in lebaran (Islamic Holy day)) is to rebuild the brotherhood string and friendship

Kata Kunci : Mudik, Silaturrahmi dan Komunikasi

A. Pendahuluan

Menjelang Hari Raya Idul Fitri media massa ramai memberitakan tentang mudik yang dilakukan oleh masyarakat di Indonesia. Banyak orang yang beranggapan kalau lebaran dan tidak mudik maka akan terasa kurang lengkap karena tidak bisa bertemu dengan keluarga besarnya. Tradisi mudik merupakan fenomena sosial-keagamaan yang menggambarkan keseragaman rasa, karsa dan cipta manusia Indonesia di bumi pertiwi ini. Sebab hampir setiap tahun peristiwa pulang kampung dilakukan masyarakat untuk dapat berlebaran di tanah tempat kelahiran.

Di dalam tradisi mudik, tercermin suatu makna bahwa setiap orang menghendaki atau mengharapkan kembalinya diri ke tempat asal-muasal. Tidaklah heran jika pemudik rela menempuh perjalanan panjang. Para pemudik rela antre berjam-jam di loket bus, stasiun kereta api, bahkan ada yang berani menyewa truk atau menggunakan sepeda motor menempuh jarak ratusan kilometer. Pengorbanan tersebut adalah salah satu pertanda bahwa mudik sangatlah penting dalam denyut nadi kehidupan sosial-spiritual masyarakat.

Selain untuk memperlihatkan keberhasilan yang telah dicapai di kota, prosesi mudik juga kerap dilakukan untuk mengembalikan jati diri kemanusiaan. Sebab motif dari tradisi mudik yang diajarkan nenek moyang kita adalah untuk mengembalikan jati diri kemanusiaan yang telah lama terdegradasi atmosfer modernitas yang menyingkirkan rasa kemanusiaan, kebersamaan dan kekeluargaan sehingga kita berubah wujud menjadi manusia yang krisis identitas, individu yang mendewakan materi dengan ikatan kolektif semakin luntur.

B. Pengertian Mudik

Mudik berasal dari kata "udik" yang artinya kampung. Jadi secara sederhana, kata "mudik" bisa diartikan sebagai "pulang ke kampung asal, di mana kita dilahirkan dan sebagian besar keluarga bertempat tinggal".
Tradisi "mudik", yang umumnya dilakukan orang Indonesia, mungkin telah berlangsung sejak lama.[1]

Hal ini disebabkan karena budaya orang-orang Indonesia yang suka hidup berpetualang, mengembara dan merantau, baik bertujuan mencari penghidupan materi kekayaan, kejayaan, maupun ilmu pengetahuan. Budaya ini pun dimiliki oleh orang-orang di belahan bumi mana pun.

Secara sosiologi, mudik mengingatkan manusia pada kampung halaman yang pernah melahirkan dan membesarkannya. Ingat pada kampung halaman ini penting agar kita tidak meninggalkan keluarga besar yang masih ada di kampung halaman. Sebab dalam kehidupan urban, manusia kota biasanya hidup sebagai keluarga inti yang hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak.[2]

C. Mudik Sebagai Forum Silaturahmi

Tradisi mudik pada saat lebaran barangkali sudah terjadi berpuluh-puluh tahun. Tradisi mempunyai kekuatan luar biasa dalam menggerakkan aktifitas sosial. Tradisi juga menjadi benteng dari nilai-nilai budaya. Tradisi mudik menjadi lebih kuat karena di dalamnya ada nuansa agama, yaitu silaturrahmi. Manusia adalah makhluk sosial, oleh karena itu dorongan untuk bertemu keluarga dan teman-teman lama di kampung halaman berasal dari fitrah sosialnya. Mudik menjadi bernuansa religius karena silaturrahmi memang perintah agama.

Ada tiga landasan kejiwaan yang cukup kuat dijadikan alasan untuk "tradisi mudik lebaran” [3]

1. Di kampung asal kita lahir, di mana kita menghabiskan masa kanak-kanak serta di sana pula tinggal sanak saudara, handai taulan, tetangga dan lingkungan yang akrab dengan kita sebelum kita pergi ke tempat lain, adalah tempat yang sangat berkesan, banyak membekaskan kenangan dan tidak jarang menimbulkan kerinduan. Hingga suatu saat setelah berada di tempat lain kita pun ingin kembali. Ini adalah suatu fitrah manusia dari zaman ke zaman, dari dahulu dan akan berlangsung sampai kapan pun.

2. Menyambung tali kasih sayang kepada sanak saudara dan kerabat, yang kita kenal dengan istilah "silaturrahmi", dan menghangatkan kembali hubungan persahabatan dengan teman yang telah lama berpisah, yang kita kenal dengan istilah "ukhuwah".

3. Momen "Idul Fitri" membawa jiwa kita pada terbukanya fitrah manusia setelah sebulan menahan lapar, haus dan nafsu saithoniah dengan berpuasa, sehingga tumbuh kesadaran akan rasa kasih sayang dan saling cinta kepada sesamanya, terlebih kepada keluarga.

Setidaknya tiga hal inilah yang mendorong seseorang melakukan mudik lebaran, untuk segera bertemu dan mencurahkan rasa rindu, kasih sayang dan cintanya kepada orang-orang yang dicintai, yang akhirnya menjadi sebuah tradisi tiap tahunnya. Dorongan seperti ini, dalam diri seseorang kadang muncul begitu kuat hingga tidak bisa menahan kecuali harus segera memenuhinya, apa pun keadaan dan resikonya.

Kuatnya dorongan ini juga sangat dipengaruhi oleh empat faktor kejiwaan yang melandasi cinta dan kasih sayang seseorang, yang terkenal dengan istilah psikologi kasih sayang. Empat faktor itu adalah: penuh perhatian, keinginan untuk memberi, memaklumi kekurangan dan memaafkan kesalahan. Sebenarnya, sifat kasih sayang ini adalah sifat dasar setiap manusia semenjak diciptakan oleh Allah SWT. di mana sebelum manusia ini di lahirkan di dunia, ia tersimpan dalam suatu tempat yang kokoh dan aman dalam perut seorang wanita yang dinamakan "rahim". Rahim ini adalah salah satu nama dari sembilan puluh sembilan Asma Al-Husna atau nama-nama Allah yang indah, yang berarti bahwa Allah mempunyai sifat kasih sayang. Selama kurang lebih sembilan bulan sepuluh hari ia tersimpan di sana, dan selama itu pula ia hanya dikenalkan dengan sifat rahim (kasih sayang), sesuai dengan nama tempat ia tersimpan. Hingga pertama manusia lahir ke dunia ia hanya membawa sifat kasih sayang yang telah terbentuk dalam jiwanya selama dalam kandungan (rahim) ibunya.

Tatkala manusia dilahirkan di dunia, ia disibukkan oleh urusan dunia yang begitu kompleks, ada kemungkinan sifat ini akan terdesak bahkan tertimbun oleh sifat-sifat lain seperti sifat rakus, iri, dengki dan sifat-sifat saithoniah yang lain. Maka setelah Ramadhan, sebulan jiwa dibersihkan dari sifat-sifat saithoniah, manusia akan kembali kepada fitrahnya, yaitu sifat kasih sayang, yang sebenarnya telah menjadi sifat dasar aslinya. Inilah yang setiap tahun kita saksikan bersama berbondong-bondongnya jutaan manusia Indonesia yang melakukan "pulang mudik" untuk bersilaturrahmi atau menjalin tali kasih sayang kepada seluruh keluarga dan kerabat serta menghangatkan kembali ukhuwah dengan sahabatnya di kampung halaman.

Dalam kebersihan jiwa mereka dari unsur sifat saithoniah, setelah shaum ramadhan, jiwa-jiwa mereka dipenuhi rasa kasih sayang yang mendesak keinginannya untuk segera dicurahkan kepada keluarga, kerabat dan orang-orang yang dikasihi dan dicintai, seakan kehausan yang segera membutuhkan tetesan air yang sejuk dan menyegarkan, atau seperti pemuda yang dilanda kerinduan kepada kekasih yang ia cinta, ingin segera melepas kerinduannya berjumpa dengan kekasih, apapun risikonya. Dorongan (baca: kebutuhan) pulang mudik untuk tujuan "bersilaturrahmi" seperti ini melanda setiap muslim tanpa kecuali.

Meski tidak sedikit oknum yang mempunyai tujuan untuk "pamer" kekayaan di kampung atas keberhasilannya selama di perantauan. Tidak saja bagi mereka yang kaya, yang punya mobil, punya motor maupun yang hanya punya ongkos naik kendaraan umum saja. Tapi bagi mereka yang tidak punya cukup ongkos pun sebenarnya punya keinginan pulang mudik, bersilaturrahmi kepada sanak famili dan mempererat ukhuwah dengan para sahabat.

D. Mudik Dan Silaturahmi Untuk Mengefektifkan Komunikasi

Manusia adalah mahluk sosial, maka pada dasarnya tidak mampu hidup sendiri di dunia ini. Manusia membutuhkan manusia lain untuk saling berkolaborasi dalam pemenuhan kebutuhan fungsi-fungsi sosial satu dengan yang lainnya. Karena pada dasarnya suatu fungsi yang dimiliki oleh manusia satu akan sangat berguna dan bermanfaat bagi manusia lainnya. Karena fungsi-fungsi sosial yang diciptakan oleh manusia ditujukan untuk saling berkolaborasi dengan sesama fungsi sosial manusia lainnya.

Tindakan awal dalam penyelarasan fungsi-fungsi sosial dan berbagai kebutuhan manusia diawali oleh dan dengan melakukan interaksi sosial atau tindakan komunikasi satu dengan yang lainnya. Aktivitas interaksi sosial dan tindakan komunikasi itu dilakukan baik secara verbal, non verbal maupun simbolis, sehingga tercipta keseimbangan sosial antara hak dan kewajiban dalam pemenuhan kebutuhan manusia, terutama juga kondisi keseimbangan itu akan menciptakan tatanan sosial dalam proses kehidupan masyarakat saat ini dan waktu yang akan datang.[4]

Komunikasi verbal adalah pesan yang disampaikan melalui satu kata atau lebih.[5] Hampir semua rangsangan wicara yang kita sadari termasuk ke dalam kategori pesan verbal disengaja, yaitu usaha-usaha yang dilakukan secara sadar untuk berhubungan dengan orang lain secara lisan. Sedangkan pesan nonverbal berfungsi untuk menggantikan, menguatkan, atau menentang pesan verbal.[6]

Kebutuhan untuk hidup bersama dengan sesama manusia inilah yang membuat seseorang melakukan komunikasi atau bersilaturahmi. Karena semakin padatnya kegiatan atau kesibukan manusia sekarang ini maka waktu untuk berkomunikasi semakin sempit sehingga lebaran menjadi forum yg sangat dinantikan oleh kebanyakan orang supaya bisa berkomunikasi kembali.

Secara Sosiologis, perayaan lebaran, mudik, dan halal bihalal, berfungsi melestarikan identitas keislaman kaum muslim, sekaligus juga menyegarkan romatisisme dan kenang-kenangan masa kecil mereka. Tidak kurang pentingnya, acara itu bagi banyak orang merupakan mekanisme untuk mengukuhkan kembali jati diri (sebagai muslim dan anggota suku tertentu) mereka yang bersifat primodial. Penelitian-penelitian konsep-diri menunjukkan bahwa asal-usul (termasuk kesukuan atau kebangsaan dan agama) merupakan dimensi kategori yang terpenting. Maka bisa dipahami bila pada hari lebaran atau saat mudik orang sering menyempatkan diri untuk menziarahi makam orang tua atau leluhur lainnya, untuk menegaskan kembali “asal-muasal kita”.[7]

Bagi masyarakat pendatang yang tinggal di daerah urban, dan pendatang kesana setelah mereka dewasa, budaya urban itu tidak pernah menjadi bagian utuh dari biografi mereka. Mereka tetap memelihara budaya (adat istiadat, bahasa daerah, cara makan dan jenis makanan,etiket, dsb). Semua itu berfungsi menghidupkan jati diri dan juga masa lalu mereka, juga sebagai pemenuhan akan keinginan bernostalgia.

Hikmah terpenting dari lebaran, mudik dan halal bilhalal adalah untuk bersilaturrahmi: menumbuhkan tali persaudaraan dan persahabatn yang telah terputus atau mulai rapuh akibat mobilitas geografis dan mobilitas sosial yang kita lakukan pada zaman modern ini. Dalam bahasa Ilmu Komunikasi, lebaran, mudik dan halalbihalal merupakan sarana mengefektifkan kembali komunikasi kita dengan manusia lain, khususnya sesama muslim.

Komunikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan membangun hubungan antar sesama manusia, melalui pertukaran informasi, untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain, serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu.[8] Agar komunikasi bisa berjalan dengan lancar, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, diantaranya : pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian komunikan, pesan harus menggunakan lambang-lambang tertuju kepada pengalaman yang sama antar komunikator dengan komunikan sehingga sama-sama mengerti.[9]

Mengapa kita perlu memperbaiki kualitas komunikasi? Komunikasi telah dihubungkan dengan kesehatan fisik. Stewart menunjukkan: orang yang terkucil secara sosial cenderung lebih cepat mati. Selain itu kemampuan berkomunikasi yang buruk ternyata mempunyai andil dalam penyakit jantung koroner, dankemungkinan terjadinya kematian naik pada orang yang ditinggalkan mati oleh pasangan hidupnya.[10]

Sejak dulu, banyak bukti menarik mengenai hubungan positif antara komunikasi sosial yang harmonis dan usia panjang ini. Raja Frederick II, penguasa Sicilia abad ke-13, membuat percobaan dengan memasukkan sejumlah bayi ke laboratorium. Anak-anak itu dimandikan dan disusui oleh ibu-ibu, namun bayi-bayi itu tidak diajak berbicara, akibatnya semua bayi dalam percobaan itu mati. Tahun 1915, seorang dokter di Rumah Sakit John Hopskinmenemukan bahwa 90% dari semua bayi yang ada di panti asuhan Baltimore, Maryland, meninggal dalam satu tahun. Pada tahun 1944, seorang psikolog menemukan bahwa 34 dari 91 anak panti asuhan yang diamatinya juga mati.[11]

Korelasi positif antara komunikasi yang efektif (tulus, hangat dan akrab) dengan usia panjang juga telah didukung oleh penelitian terbaru yang dilakukan Michael Babyak dari Universitas Duke, dan beberapa rekannya dari beberapa universitas di Amerika Serikat. Lewat penelitian yang melibatkan 750 orang kulit putih dari kelas menengah sebagai sampel, dan memakan waktu 22 tahun, para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang berkomunikasi kurang efektif (tidak suka berteman, memusuhi, mendominasi pembicaraan) berpeluang 60% lebih tinggi menemui kematian pada usia dini dibandingkan dengan orang-orang yang berperilaku sebaliknya (ramah, suka berteman, berbicara tenang).[12]

Penelitian ini membuktikan sabda rasulullah seperti dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Barang siapa senang dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah menyambung tali kekerabatannya (silaturahmi).[13]

Dari hadist tersebut tersirat bahwa silaturrahmi mengandung dua kebaikan, yaitu menambah umur dan menambah rizki. Yang dimaksud dengan nambah umur bukan tahunnya, tetapi maknanya. Ada orang yang umurnya pendek tapi maknanya panjang, sebaliknya ada orang yang umurnya panjang tetapi justeru tak bermakna. Silaturrahmi akan menambah makna umur kita karena di dalamnya ada unsur perkenalan, publikasi, belajar, apresiasi disamping rizki. Yang kedua silaturahmi bisa menambah rizki. Rizki dari silaturrahmi bisa bisa berupa uang, makanan, persaudaraan, jaringan, pekerjaan, jodoh, pengalaman, ilmu dan sebagainya. Rizki itu sendiri artinya semua hal yang berfaedah. Uang yang kita terima menjadi rizki jika ia membawa faedah.

Dengan bersilaturahmi manusia dapat menjalin komunikasi yang baik dengan sesamanya, karena dengan komunikasi hubungan antarmanusia dapat dipelihara kelangsungannya. Sebab melalui komunikasi dengan sesama kita bisa memperbanyak sahabat dan memperbanyak rizki. Pendek kata komunikasi berfungsi menjembatani hubungan antarmanusia dalam bermasyarakat[14]


E.
Penutup

Hari raya Idul Fitri yang menjadikan masyarakat terdorong untuk mudik, yaitu kembali ke asal kelahiran mereka, tidak saja dimaknai secara fisik, ialah sebatas berkenjung ke orang tua, tempat kelahirannya, tetapi mestinya lebih dari sebatas itu. Istilah mudik seharusnya dimaknai secara hakiki, ialah mudik ke asal bentuk kejadiannya, ------sebaik-baik bentuk. Mata, telinga, akal, dan hatinya selalu didekatkan dengan petunjuk kitab suci al Qurán. Inilah sesungguhnya mudik yang sebenarnya, setelah mereka kembali dari mudik secara fisik, dari kampung halamannya masing-masing.

Jika fenomena mudik dimaknai seperti ini, ialah kembali ke asal kejadian yang terbaik, maka hari raya benar-benar memiliki makna yang amat besar dalam membangun negeri dan bangsa ini. Semua energi yang telah dihabiskan untuk mudik menjadi tidak hilang percuma. Sebab hasilnya jauh melebihi dari semua yang dibelanjakan itu. Mudik tidak saja kembali ke asal secara fisik, tetapi kembali ke kejadian awal, yaitu sebaik-baik bentuk kejadian.[15]


DAFTAR PUSTAKA

Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2006

Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi suatu Pengantar, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2000

......................., Nuansa-Nuansa Komunikasi, Remaja Rosdakarya, Bandung, cet. 1, 1999

Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, Edisi Revisi, Raja Grafindo Persada, Jakarta:2007

Onong Uchyana Effendi, Ilmu dan Filsafat Komunikasi, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000

Ringkasan Shahih Muslim Terjemahan, Bandung: 2002,

Sam Abede Poreno, Kuliah Komunikasi, Papyrus, Surabaya, 2002,

Stewart L. Tubbs-Silvia Moss, Human Communication, terjemahan Deddy Mulyana, Remaja Rosdakarya, Bandung: 2000

http://musthaffo.multiply.com/

http://www.analisadaily.com/

http://www.uin-malang.ac.id



[3]http://musthaffo.multiply.com. tgl 14 Oktober 2009

[4] Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2006 h.26

[5] Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi suatu Pengantar, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2000, h. 237

[6] Stewart L. Tubbs-Silvia moss, Human Communication, terjemahan Deddy Mulyana, Remaja Rosdakarya, Bandung: 2000, h. 114

[7] Deddy Mulyana, Nuansa-Nuansa Komunikasi, Remaja Rosdakarya, Bandung, cet. 1, 1999, h. 41

[8] Sam Abede Poreno, Kuliah Komunikasi, Papyrus, Surabaya, 2002, h. 3

[9] Onong Uchyana Effendi, Ilmu dan Filsafat Komunikasi, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, h. 41

[10] Stewart L. Tubbs-Silvia moss, op.Cit, h. 22

[11] Deddy Mulyana, h. 48

[12] Ibid, h. 48

[13] Ringkasan Shahih Muslim Terjemahan, Bandung: 2002,h. 1025

[14] Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, Edisi Revisi, Raja Grafindo Persada, Jakarta:2007, h.59

Read More..

Kamis, 27 Mei 2010

DOSEN LULUS SERTIFIKASI

SYUKURAN DOSEN LULUS SERTIFIKASI, Dosen jurusan Dakwah termasuk yang ikut sertifikasi pada tahun 2009, dinyatakan lulus semua, merupakan sebuah kebahagiaan yang sangat luar biasa.
Alhamdulillah, untuk menyadari semua rahmat dan karunia Allah ini, digelar Do'a dan Syukuran atas keberhasilan tersebut dalam sebuah acara sykuran dan makan-makan di Auditorium STAIN Samarinda pada hari Kamis 27 Mei 2010, yang dihadiri seluruh Dosen STAIN Samarinda, termasuk Mahasiswa, Karyawan, dan dosen Purna tugas (Pensiunan) yang masih bisa sempat hadir pada acara itu. walaupun ada beberapa yang dalam keadaan sakit, beliau yang sempat hadir adalah Drs. H. Yusuf Rasyid, Drs. H. Nasri Usup & isteri, Drs.H, Sabran Djailani termasuk Drs. H. Ahmad Safwani, Drs. H. Riduan. serta dihadiri beberapa undangan lain.
acara ini diselenggarakan atas kerjasama semua pihak, syukur ini juga dirasakan semua civitas akademika STAIN Samarinda.
semoga kegiatan ini benar-benar membawa berkah untuk civitas STAIN Samarinda hari ini dan di masa akan datang. menyusul lagi untuk pengajuan Dosen yang disertifikasi mulai bulan ini ada 36 orang yang juga mudah-mudahan semua lulus, amin.
Read More..

Selasa, 18 Mei 2010

Akreditasi PRODI KPI & MD

Akreditasi PRODI KPI & MD

visitasi akreditasi program studi Manajemen Dakwah dan Komunikasi Penyiaran Islam KPI, sudah dilaksanakan di Jurusan Dakwah, Ketua Prodi MD "syukur Alhamdulillah kami divisitasi lebih awal dan mudah-mudahan lancar serta mendapat nilai terbaik".
(dilengkapi..... dlu) Read More..

Senin, 17 Mei 2010

Keunggulan DAKWAH MEDIA Cetak


1. Dakwah

Dakwah adalah senjata para Nabi dan Rasul dalam mengembangkan agama Islam di tengah umat manusia. Secara etimologis, perkataan dakwah berasal dari bahasa Arab dengan akar kata huruf dal, 'ain dan waw yang berarti dasar kecenderungan kepada sesuatu disebabkan suara dan kata-kata (Abu Husain Muhammad ibn Faris Zakariya, Mu'jam Al-Maqayis Al-Lughah, juz 2, Mesir: hl. 279).
Menurut Bahasa kata dakwah memiliki banyak arti, di antaranya al-shaihah (teriakan) dan al-nida (seruan), makna positif (diantaranya) seperti dalam QS Yunus (10): 25 disebutkan: "Allah mendakwah (manusia) ke daru al-salam (surga) dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus (ISlam).

Banyak kata dan definisi dakwah, dalam kaitannya dengan kata-kata dan istilah-istilah dapat dilihat dari segi penggunaannya dalam konteks.
QS Ali Imran 89: "dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung"

2. Keunggulan Dakwah Media Cetak


sebuah ilustrasi yang indah disampaikan oleh Hasan al-Banna bahwa para juru dakwah ibarat gardu listrik yang menyebarkan aliran listrik untuk menerangi setiap sudut dan pelosok kota. adalah tugas da tanggung jawab para dai/ ulama menyampaikan sinar nilai-nilai ISlam ke segenap lapisan masyarakat.
informasi yang disampaikan kepada masyarakat dan mengatur gerakan dakwah harus mampu memanfaatkan hasil sains, teknologi dan informasi modern untuk mencapai tujuan dakwah, yaitu memperluas jangkauan pengaruh dakwah.
oleh para ahli sejarah disebut tahap dakwah terang-terangan. dakwah menggunakan mass media cetak, seperti surat kabar, majalah, buletin, brosur, tabloid dan lain-lain, untuk menyebarkan pikiran-pikiran dan nilai-nilai dakwah bi al qalam kepada semua tingkatan manusia.
cara ini memiliki beberapa keunggulan;
pertama, lebih dalam pengaruhnya dari gelombang suara lisan ahli pidato. pidato lisan dari seorang orator dapat memikat jutaan masa masyarakat dalam sesaat, tetapi bisa kembali tidak menyerap dalam hati.
kedua, tulisan atau sari pena seorang pengarang cukup berbicara satu kali dan akan melekat terus menerus dalam hati serta bisa menjadi buah tutur setiap hari.
ketiga, bahasa tulisan lewat media cetak lebih rapi dan lebih teratur dari pada bahasa lisan karena menulis adalah berpikir dengan teratur.
keempat, pembaca bisa membaca berulang-ulang hingga meresapi.
Kelima, lebih menguatkan jalinan persaksian.
keenam, terekam. nasihat-nasihat yang disiarkan media cetak tersusun dan alinea, kalimat dan kata-kata yang terdiri atas huruf-huruf yang dicetak pada kertas.
ketujuh, dapat diproduksi.
melalui media cetak pesan-pesan mudah diikuti terkadang mengalahkan nasihat orang tua atau penguasa. media cetak memiliki kekuatan besar dalam mempengaruhi sekaligus mengubah pola pikir, sikap dan prilaku publik.

Media dakwah mampu memainkan salah satu fungsinya sebagai saluran efektif dalam melakukan pendidikan sosial, politik, moral, dan berbagai arti kehidupan lainnya secara massal. sebab selain berfungsi sebagai penyebar informasi, media cetak juga berfungsi mendidik dan menyajikan ruang ilmu pengetahuan bagi pembacanya. (ale-redaksi 2010)
Read More..

Selasa, 15 Desember 2009

Etika dan Strategi Dakwah

Etika dan Strategi Dakwah
oleh Dra. Hj. Noorthaibah, M.Ag

pendahuluan
qs. An Nahl ayat 125 .... ajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan jalan hikmah (Bijaksana) dan dengan ajaran-ajaran yang baik.


dakwah : do'a menyeru mengajak mendorong
Hikmah : cara yang santun, efektif, kemampuan da'i (daiyah) lihat sikon waktu tempat keadaan masyarakat
mauidhah : membuat orang mau berpikir merenungkan dan menyadari.
Read More..

DR. H. Hadi Mutamam, M.Ag

agenda dakwah Ketua STAIN Samarinda:
DR. H. Hadi Mutamam, M.Ag

mahasiswa harus mampu berdakwah secara profesional, kebijakan lembaga dalam pembinaan dakwah banyak yang perlu diperhatikan dan dilaksnakan:

1. Mahasiswa khusus jurusan dakwah diterjunkan ke Desa-desa dalam melaksanakan Dakwah
2. Buatkan rencana untuk melaksanakan Dakwah = ceramah dll
3. realisasi tahun 2010
Read More..

Selamat Mengikuti Workshop Khatib dan Muballigh

Workshop Khatib dan Muballigh bagi Mahasiswa Jurusan Dakwah STAIN Samarinda, tanggal 16-19 Desember 2009


Agenda workshop Khatib dan Muballigh bagi Mahasiswa Jurusan Dakwah STAIN pada tahun 2009 ini adalah:
1. kebijakan pembinaan muballigh pada STAIN Samarinda oleh DR. H. Hadi Mutamam, M.Ag
2. Etika & Strategi Dakwah oleh: Dra. Hj. Noorthaibah, M.Ag
3. Profesionalisme Khotib dan Muballigh dalam Dakwah oleh H. Bunyamin, Lc, M.Ag
4. tema-tema khutbah dan Retorika Dakwah oleh H. Bunyamin, Lc, M.Ag
5. Realitas Masyarakat sebagai sumber materi Dakwah oleh: DR. Zurqoni, M.Ag

kegiatan ini selain materi dalam bentuk presentasi juga dilaksanakan praktek dan studi lapangan.

panitia pelaksana,
ketua,

DR. Mursalim, M.Ag
Read More..

DATA STAIN Se INDONESIA

ST0010
STAIN Padang Sidempuan
Jl. Imam Bonjol Km. 4,5 Sihitang
Tapanuli Selatan
Sumatera Utara
0634-22080


ST0011
STAIN Prof. Dr. H. Mahmud Yunus
Jl. Sudirman No. 137 Kuburajo Lima Kaum Batusangkar
Tanah Datar
Sumatera Barat
0752-71150

ST0012
STAIN Sjech M. Djambek
Jl. Paninjauan Garegeh Koto Selayan Bukit Tinggi
Kota Bukit Tinggi
Sumatera Barat
0752-33136

ST0013
STAIN Kerinci Sungai Penuh
Jl. Pelita IV Sungai Penuh
Kerinci
Jambi
0748-21065

ST0014
STAIN Curup
Jl. Dr. Ak. Gani No. 1
Rejang Lebong
Bengkulu
0732-21010

ST0015
STAIN Bengkulu
Jl. Raden Fatah Pagar Dewa
Kota Bengkulu
Bengkulu
0736-51171

ST0016
STAIN Jurai Siwo Metro
Jl. Lembayung 15 A Kota Metro
Kota Metro
Lampung
0725-41507

ST0017
STAIN Cirebon
Jl. Perjuangan By Pass Sunyarangi
Kota Cirebon
Jawa Barat
0231-480262

ST0019
STAIN Purwokerto
Jl. Jenderal Ahmad Yani Purwokerto
Banyumas
Jawa Tengah
0281-635624

ST0020
STAIN Surakarta
Jl. Pandawa Pucangan Kartasura Sukoharjo
Sukoharjo
Jawa Tengah
0271-781516

ST0021
STAIN Kudus
Jl. Conge Ngembal Rejo PO BOX 51
Kudus
Jawa Tengah
0291-432677

ST0022
STAIN Salatiga
Jl. Stadion No. 03 Salatiga
Kota Salatiga
Jawa Tengah
0298-323706

ST0023
STAIN Pekalongan
Jl. Kusuma Bangsa No. 9
Kota Pekalongan
Jawa Tengah
0285-412575

ST0024
STAIN Ponorogo
Jl. Pramuka No. 156 Ronowijayan Ponorogo
Ponorogo
Jawa Timur
0352-481277

ST0025
STAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur No. 46 Tulungagung
Tulungagung
Jawa Timur
0355-321513

ST0029
STAIN Kediri
Jl. Sunan Ampel No. 07 Ngronggo
Kediri
Jawa Timur
0354-689282

ST0027
STAIN Jember
Jl. Jumat Mangli No. 94 Jember
Jember
Jawa Timur
0331-487550

ST0028
STAIN Pamekasan
Jl. Brawijaya No. 05 Pamekasan
Pamekasan
Jawa Timur
0324-323850

ST0026
STAIN Malang
Jl. Gajayana No. 50 Malang
Kota Malang
Jawa Timur
0341-551354

ST0018
STAIN Sultan Maulana Hasanuddin
Jl. Jenderal Sudirman No. 30 Serang
Serang
Banten
0254-200323

ST0030
STAIN Mataram
Jl. Pendidikan No. 35 Mataram
Kota Mataram
Nusa Tenggara Barat
0370-621298

ST0031
STAIN Pontianak
Jl. Letnan Jendral Soeprapto No. 19 Pontianak
Kota Pontianak
Kalimantan Barat
0561-734170

ST0032
STAIN Palangkaraya
Jl. Gobos Komplek Islamic Center Palangkaraya
Kota Palangkaraya
Kalimantan Tengah
0536-39447

ST0033
STAIN Samarinda
Jl. KH Abul Hasan No. 03 Samarainda
Kota Samarinda
Kalimantan Timur
0541-742193

ST0035
STAIN Manado
Jl. Camar V Perumnas Bawah Ranomuut
Kota Manado
Sulawesi Utara
0431-860616

ST0036
STAIN Datokarama Palu
Jl. Diponegoro No. 23 Palu
Kota Palu
Sulawesi Tengah
0451-422390

ST0037
STAIN Watampone
Jl. HOS Cokroaminoto
Bone
Sulawesi Selatan
0481-21395

ST0039
STAIN Pare Pare
Jl. Bumi Harapan Soreang
Kota Pare-Pare
Sulawesi Selatan
0421-21307

ST0038
STAIN Palopo
Jl. Dr. Ratulangi, Balandai
Kota Palopo
Sulawesi Selatan
0471-22076

ST0040
STAIN Sultan Qaimuddin
Jl. Sultan Qaimuddin No. 17 Baruga
Kendari
Sulawesi Tenggara
0401-393711

ST0034
STAIN Sultan Amai
Jl. Gelatik Heledula Selatan
Gorontalo
Gorontalo
0435-822725

ST0042
STAIN Ambon
Jl. Kebun Cengkeh Batu Merah Atas
Kota Ambon
Maluku
-

ST0041
STAIN Ternate
Jl. Lumba-Lumba Kelurahan Dufa-Dufa
Ternate
Maluku Utara
Read More..

POLA PEMBINAAN ANAK YATIM PIATU


PROPOSAL
SEMINAR & LOKAKARYA
POLA PEMBINAAN ANAK YATIM PIATU
DI KOTA SAMARINDA
oleh: JURUSAN DAKWAH Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda
A. DASAR PEMIKIRAN
Mendidik dan memelihara anak merupakan tanggung jawab dan kewajiban orang tua. Bahkan agama Islam menyebutkan mendidik dapat dilakukan ketika dalam kandungan, masa anak-anak hingga dewasanya. Kewajiban mendidik tidak hanya masalah dunia justru masalah yang berhubungan dengan kehidupan akhirat juga merupakan materi yang penting untuk didapat oleh anak.

Anak yang dilahirkan seharusnya memperoleh berbagai hal, baik segi kebutuhan jasmani maupun rohani, memperoleh kelayakan hidup serta memperoleh pendidikan serta memperoleh kasih sayang.
Semua anak yang dilahirkan tidak semuanya bernasib baik dan beruntung, terdapat anak yang sejak dilahirkan sudah ditinggal oleh orang tuanya, atau ada pula yang sudah beranjak besar juga ditinggal orang tuanya, sehingga menibulkan ketimpangan bagi anak tersebut, tidak lagi merasakan kasih sayang, tidak lagi memiliki orang tua.
Berbagai kebutuhan anak yang di tinggal orang tuanya menjadi terkendala, misal faktor pendidikan, seharusnya anak mampu sekolah menjadi tidak bisa, karena tidak memiliki kecukupan biaya, atau misal lain yang banyak pula terjadi anak-anak akhirnya menjadi anak jalanan atau harus mencari nafkah sendiri untuk hidupnya.
Hal ini tentu diperlukan pandangan dan gambaran semua pihak kearah ini, agar anak-anak yang kurang beruntung seperti yatim piatu ini dapat menjadi lebih baik kehidupanya, melalui kepedulian dan tumbuhnya semangat sosial diantara kita.
Keterlibatan pemerintah, pihak swasta serta masyarakat untuk memposisikan dirinya menjadi kekuatan serta modal yang besar bagi terwujudnya anak-anak yatim piatu yang berdaya dan mampu untuk mendapatkan berbagai kesempatan yang sama dengan anak-anak lain.
Mengingat pentingnya hal tersebut, maka Jurusan Dakwah STAIN Samarinda akan melaksanakan kegiatan yang bernama “Seminar & Lokakarya Pola Pembinaan Anak yatim Piatu di Kota Samarinda Tahun 2009 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda”

B. TUJUAN
Adapun tujuan Seminar & Lokakarya ini adalah :
1. Untuk merumuskan dan memperoleh pandangan serta gambaran tentang pola-pola pembinaan anak yatim piatu di kota Samarinda.
2. Untuk memberikan motivasi serta membuka gerak bagi tenaga-tenaga sosial dalam membina anak yatim piatu di kota Samarinda
3. Untuk merumuskan peran pemerintah dan pihak swasta dalam pola pembinaan anak yatim piatu di kota Samarinda.

C. TARGET
Adapun target yang ingin dicapai dalam Seminar & Lokakarya ini adalah :
1. Meningkatnya pengetahuan tentang pola pembinaan anak yatim piatu di kota Samarinda.
2. Meningkatnya kemampuan dan tumbuhnya motivasi sosial terhadap pembinaan anak yatim piatu di kota Samarinda
3. Meningkatnya kemampuan untuk pola pembinaan anak yatim piatu di kota Samarinda sesuai dengan ajaran agama dan peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia.


D. MATERI SEMNIAR & LOKAKARYA
Dalam rangka mencapai tujuan yang dimaksud, maka materi Semniar & Lokakarya ini meliputi :
1. Pandangan Agama Islam & UU tentang Anak Yatim Piatu serta Harta si yatim Piatu.
2. Kepedulian Sosial Masyarakat dalam melahirkan pola-pola pembinaan anak yatim piatu di kota Samarinda.
3. Pemerintah & Swasta dalam pola pembinaan anak yatim piatu di kota Samarinda.
4. UU perlindungan anak
5. Perumusan pola pembinaan anak yatim piatu di kota Samarinda.

E. NARA SUMBER
Yang menjadi Nara Sumber pada kegiatan ini adalah Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda sebagai fasilitartor & pendamping (dalam Lokakarya) serta Pakar dan para Ahli dari Luar STAIN yang dianggap memiliki kemampuan (dalam materi Seminar):
1. Walikota/ Kepala Din. Sosial (unsur Pemda Kota Samarinda)
2. Kandepag (Unsur DEPAG Kota Samarinda)
3. Kandephukham (kanwil HUKHAM Kaltim)
4. Unsur MUI Kaltim/Samarinda
5. Praktisi Panti Asuhan/ Rumah titipan Anak.
6. unsur Pengusaha

F. PESERTA WORKSHOP
Peserta Seminar & Lokakarya ini adalah komponen masyarakat Kota Samarinda yang terdiri atas:
1. LSM = 20 orang
2. Guru/Dosen = 20 orang
3. Pemuda / Remaja = 10 orang
4. Ibu-Ibu pengajian = 10 orang
5. mahasiswa = 20 orang
Jumlah = 80 orang

G. RENCANA ANGGARAN
Rincian biaya terlampir

H. WAKTU PELAKSANAAN
Waktu Pelaksanaan Workshop Manajemen Pengelolaan Pers Dakwah Tahun 2008 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda” direncanakan berlangsung pada minggu kedua bulan Juli Tahun 2009 selama Tiga hari.

I. EVALUASI DAN PELAPORAN
Seminar & Lokakarya ini akan dievaluasi pada akhir kegiatan sekaligus serta dibuat laporan hasil kegiatannya. Agar kegiatan ini dapat terukur tingkat keberhasilannya untuk menjadi acuan pada kegiatan berikutnya.

Samarinda, 23 Mei 2008
Ketua Jurusan Dakwah


M. Abzar D, M.Ag
NIP. 150 284 561
Read More..

LAMPIRAN SURAT KEPUTUSAN

LAMPIRAN : SURAT KEPUTUSAN KETUA STAIN SAMARINDA
NOMOR : 056 TAHUN 2009
TENTANG : PEMBENTUKAN PANITIA PELAKSANA WORKSHOP FOTOGRAFER DAN FILM DOKUMENTER MAHASISWA JURUSAN DAKWAH STAIN SAMARINDA


I. Panitia Pelaksana
Pengarah : M.Abzar D, M.Ag
Ketua : M. Tahir, S.Ag, MM
Sekretaris : Sitti Syahar Inayah, S.Ag, M.Si
Anggota : 1. Ida Suryani Wijaya, S.Ag, M.Si
2. Samsir, M.Hum
3. Abd. Madjid, MA


Ditetapkan di : Samarinda
Pada Tanggal : 23 April 2009
KETUA




DR. H. HADI MUTAMAM, M.Ag
NIP 150189288
Read More..

Minggu, 13 Desember 2009

Workshop Peningkatan Profesionalisme Penyiaran Radio

A. Nama Kegiatan: Workshop Peningkatan Profesionalisme Penyiaran Radio bagi Mahasiswa Jurusan Dakwah STAIN Samarinda

B. Latar Belakang
Perkembangan media komunikasi modern saat ini telah memungkinkan orang di seluruh dunia untuk saling berkomunikasi. Hal ini dimungkinkan karena adanya berbagai media yang dapat digunakan sebagai sarana penyampaian pesan. Masyarakatpun sekarang semakin besar tuntutannya akan hak untuk mengetahui dan hak untuk mendapatkan informasi.
Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah membawa implikasi terhadap dunia penyiaran, termasuk penyiaran di Indonesia. Penyiaran sebagai penyalur informasi dan pembentuk pendapat umum, perannya semakin strategis terutama dalam mengembangkan kehidupan demokratis. Salah satu Media penyiaran adalah radio. Radio merupakan salah satu bentuk media massa yang efisien dalam mencapai audiensnya dalam jumlah yang sangat banyak. Karenanya media penyiaran memegang peranan yang sangat penting dalam Ilmu Komunikasi.
Dengan berkembangnya teknologi komunikasi dan peraturan-peraturan dalam dunia penyiaran, maka mahasiswa perlu meningkatkan pengetahuan dan keahlian dibidang penyiaran terutama penyiaran radio karena media penyiaran merupakan organisasi yang menyebarkan informasi yang berupa produk budaya atau pesan yang mempengaruhi dan mencerminkan budaya masyarakat. Dan dengan perkembangan teknologi ini juga bisa menjadi peluang sekaligus tantangan bagi mahasiswa yang tentunya diharapkan bisa menyebarkan ajaran agama Islam (da’i). Dikatakan sebagai peluang, berarti dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi ini akan semakin praktis dan efektif bagi seorang komunikator berhubungan dengan komunikannya, maka jika radio digunakan untuk berdakwah, akan menjadi lebih cepat sampai kepada sasarannya. Akan tetapi bisa juga dikatakan sebagai tantangan, sebab untuk menggunakannya da’i perlu memiliki pengetahuan dan keahlian sendiri.
Perubahan-perubahan konsep media penyiaran akibat perkembangan dari teknologi ini perlu mendapat perhatian semua kalangan baik praktisi maupun akademisi dalam hal mencari format-format yang baru untuk menyusun konsep yang jelas dan tidak membingungkan masyarakat. Sebagai mahasiswa Jurusan Dakwah maka mahasiswa perlu dibekali pengetahuan dan keahlian dalam bidang penyiaran radio terutama untuk meningkatkan profesionalisme penyiaran agar tidak tertinggal dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi. Berdasarkan pemikiran inilah maka perlu diadakannya workshop Peningkatan Profesionalisme Penyiaran Radio bagi Mahasiswa Jurusan Dakwah, sehingga nantinya mahasiswa dapat memanfaatkan media yang ada untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat.

C. Dasar Pemikiran
Dasar pemikiran diadakanya workshop ini adalah bahwasanya dengan adanya perkembangan teknologi dan aturan-aturan dalam penyiaran radio, maka mahasiwa perlu dilatih untuk meningkatkan pengetahuan dan keahlian dibidang penyiaran radio, karena dengan mempunyai keahlian ini mahasiswa dapat menyampaikan visi dakwahnya sebagai informasi kepada masyarakat.

D. Maksud dan Tujuan Kegiatan
Kegiatan ini dimaksudkan untuk membekali mahasiswa agar bisa mengetahui perkembangan teknologi di dunia penyiaran supaya mempunyai keahlian di bidang penyiaran. Sedangkan tujuan diadakannya kegiatan workshop ” Peningkatan Profesionalisme Penyiaran Radio Bagi Mahasiswa Jurusan Dakwah”, antara lain:
1. Mahasiswa mempunyai keahlian dalam bidang penyiaran radio.
2. Mahasiswa dapat meningkatkan profesionalitas dalam bidang penyiaran radio

E. Personalia
Kegiatan workshop ini dilaksanakan oleh tim dalam bentuk kepanitiaan, yang terdiri dari Pengarah, Ketua, Sekretaris, dan 4 orang anggota, berdasar SK yang dikeluarkan oleh Ketua STAIN Samarinda.

F. Narasumber
Nara sumber dalam kegiatan workshop ini terdiri dari kalangan akademisi (dosen) dan praktisi dalam bidang penyiaran radio, yang memahami tentang teknologi komunikasi dan peraturan-peraturan penyiaran, juga praktisi yang sudah ahli menangani penyiaran.
G. Peserta
Peserta dalam kegiatan workshop ini adalah mahasiswa jurusan Dakwah, prodi KPI dan MDI yang berjumlah 40 orang.

H. Waktu dan Tempat Kegiatan
Kegiatan workshop ini akan diselenggarakan selama 4 hari, mulai tanggal 23 s/d 26 Februari 2010, untuk kegiatan 1 hari diisi oleh materi yang bertempat di lantai 1 Perpustakaan STAIN Samarinda, dan 3 hari lebih ditekankan pada kegiatan praktek di radio.

I. Anggaran KegiatanKegiatan workshop ini diperkirakan memerlukan anggaran sebanyak
Read More..

Silabi MD

MATA KULIAH : MANAJEMEN DAKWAH
KOMPONEN :
JURUSAN : DAKWAH
PRODI : MD
PROGRAM : S.I
BOBOT : 3 SKS
KODE MK : MDDKB 402
PRASYARAT : DASAR-DASAR MANAJEMEN

I. TUJUAN
Agar mahasiswa mengetahui prinsip-prinsip dakwah, sehingga mampu mengelola kegiatan dakwah

II. TOPIK INTI
1. Pengertian organisasi dan manajemen
2. Tujuan dan kegunaan manajemen dakwah
3. Prinsip-prinsip dasar organisasi dan manajemen dakwah
4. Komponen manajemen dakwah
5. Proses pelaksanaan manajemen dakwah
1. Perencanaan, pengorganisasian, dan pembiayaan kegiatan dakwah
2. Pelaksanaan, pengawasan, dan penilaian kegiatan dakwah
3. Umpan balik terhadap hasil penilaian terhadap perencanaan dakwah
6. Standar dan kriteria keberhasilan dakwah secara kuantitatif dan kualitatif
7. Profesionalisme dalam kegiatan dakwah

III. REFERENSI
1. Panglaikim. Manajemen Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press
2. Sondang P. Siagian. Manajemen Stratejik. Jakarta Rajawali Press
3. Zaini Muchtarom. Dasar-dasar Manajemen.
4. A. Rasyad Saleh. Manajemen Dakwah. Jakarta: Bulan Bintang
5. Amrullah Ahmad. Dakwah Islam dan Perubahan Sosial. Jakarta: Primadata
6. Deliar Noer. Administrasi Islam Di Indonesia.
Read More..